Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Bahasa Ibu, Melestarikan Budaya Daerah

Oleh: Fafiana Kartika Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat, Babel
Oleh: Fafiana Kartika Guru SMK Negeri 1 Kelapa, Bangka Barat, Babel

Bahasa ibu adalah bahasa yang pertama dipakai dalam komunikasi pertama seorang anak dengan orang tua, serta menjadikan bahasa ibu sebagai alat komunikasi sehari-hari. Bahasa yang pertama kali dikuasai seorang anak, dari si anak mulai bisa berbicara hingga fasih berbicara adalah bahasa ibu. Kepandaian bahasa ibu sangat penting untuk proses belajar seorang anak pada fase berikutnya, karena bahasa ibu dianggap sebagai dasar cara berpikir. Kepandaian yang kurang dari bahasa pertama seringkali membuat proses belajar bahasa lain menjadi lebih sulit.Oleh karena itu, bahasa ibu memiliki peran penting dalam pendidikan.

Bangsa Indonesia memilik begitu banyak Bahasa daerah. Bahasa daerah  penting dilestarikan agar terhindar dari kepunahan. Badan bahasa telah mencatat ada 718 bahasa daerah (belum termasuk dialek dan subdialek) yang tersebar di pelosok Tanah Air. Kita seharusnya bangga begitu banyak bahasa daerah di Indonesia merupakan keanekaragaman budaya bahasa yang harus dijaga,seharunya orang tua mengajarkan bahasa daerah atau bahasa ibu kepada anak-anaknya. Pelestarian bahasa daerah tidak hanya untuk generasi sekarang, tetapi juga untuk generasi yang akan datang. Jangan sampai bahasa daerah itu hanya sebagai teks di kaki Burung Garuda yaitu Bhineka Tunggal Ika yang lama-lama akan punah.

Hilangnya Bahasa daerah disebabkan beberapa hal, salah satunya adalah pernikahan campuran. Ada pasangan beda daerah, yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah, maka komunikasi yang digunakan di rumah adalah Bahasa Indonesia. Kalau kita amati bahasa ibu itu memiliki kekayaan batin, maksudnya, jika penutur menggunakan bahasa daerah tidak hanya menjelaskan maksud dan tujuan pembicaraan tetapi juga bisa menyampaikan perasaan yang mendalam.     “Kapong ko suat ik ade seterum, ko gurak temen, tapi ge pas padem lampu, ko sare belajer pas malam-malam, jadi ge kamey nak ngidup lilien”. Artinya Kampung saya sekarang ada listriknya, saya sangat senang, tetapi saat mati lampu, saya sangat sulit untuk belajar pada malam hari, kami pun harus menghidupkan lilin.

Bahasa tersebut merupakan bahasa Jerieng. Bahasa Jerieng adalah salah satu bahasa daerah di Bangka Barat. Kalau kita lihat tentu saja bahasa tersebut mengandung perasaan yang mendalam. Selanjutnya, saat ini di era globalisasi orang tua cenderung mengusahakan anaknya untuk menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris, bahasa mandarin dan sebagainya, sehingga menjadikan bahasa Indonesia dan bahasa lokal terpinggrirkan. Boleh-boleh saja mempelajari bahkan menguasai bahasa asing,  tetapi jangan sampai bahasa lokal atau bahasa ibu tidak kita kenal lagi. Lama kelamaan bahasa ibu akan hilang pada akhirnya.

Bahasa ibu atau bahasa daerah memiliki tingkat bahasa yang biasanya digunakan alat untuk mengatur bagaimana sebaiknya orang berbicara. Tingkat ini mengatur bagaimana suatu bahasa digunakan dengan teman sebaya atau orang lebih tua. Bahasa daerah adalah cermin sopan santun. Bahasa daerah dengan berbagai tingkatnya membuat anak akan belajar sopan santun dengan siapa berbicara. Jika anak berbicara dengan orang yang lebih tua, misalnya guru atau nenek, maka anak akan menggunakan bahasa yang sesuai. Dengan menbiasakan hal ini, anak bisa paham bahwa orang orang lebih tua harus dihormati. Mengenalkan bahasa asing juga baik, asalkan anak telah memiliki bahasa pertama yang dipahami anak dan dilakukan dalam kesehariannnya. Hal ini harus dilakukann karena anak membutuhkan media komunikasi berupa bahasa awal. Agar anak mampu berinteraksi dengan lingkungan menggunakan bahasa ibu yang sama.

Kompleksitas kondisi wilayah Indonesia mengakibatkan bahasa ibu terancam punah. Satu rombongan belajar yang terdiri dari berbagai latar belakang bahasa ibu yang berbeda tentu saja akan menjadi penyebab bahasa ibu akan punah. Selain itu, bahasa ibu kurang ada padanan kata dengan bahasa Indonesia, tentu saja akan menyulitkan siswa untuk memahami materi yang diberikan sehingga lama kelaman bahasa tersebut tidak digunakan.

SMK Negeri 1 Kelapa terletak di kecamatan Kelapa. Bahasa Ibu di daerah Kelapa jumlahnya cukup banyak. Siswa yang bersekolah di SMK Negeri 1 Kelapa biasanya berkomunikasi  dalam kondisi tidak resmi menggunakan bahasa ibu. Pada saat proses pembelajaran pun para guru terkadang mendengar siswa ada yang menggunakan bahasa ibu. Jika menggunakan bahasa ibu pada saat pemberian materi ternyata mereka lebih mudah mengerti, ini disebabkan mereka dari kecil sampai dewasa menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi sehari-hari. Sebagai tenaga pendidik yang ditugaskan di daerah, tentu saja guru harus mempelajari bahasa daerah tempat bertugas untuk bisa beradapatasi dengan mereka.

Penggunaan bahasa ibu tempat kita berasal dalam komunikasi dalam keluarga juga sangat diharapkan agar bahasa ibu tidak punah. Selain itu juga penggunaan bahasa ibu bisa untuk melepas rindu pada kampung halaman dan juga sebagai sarana untuk mengenalkan pada anak kita bahasa ibu dari orang tuanya.           Sebagai bangsa yang besar dan memiliki ragam budaya khususnya ragam bahasa daerah, kita harus bangga. Kebanggaan tidak hanya ucapan saja, tetapi juga dengan perbuatan, yaitu melestarikan bahasa ibu dengan mencintai dan mempelajarinya. Diharapkan ciri khas bangsa Indonesia yang beragam dilihat dari bahasa daerah dapat kita pertahankan. Dengan menggunakan bahasa Ibu, sama halnya kita melestarikan budaya daerah.(***).

Diatas Footer
Light Dark