Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Izin Pabrik CPO PT. PUS Diduga Kadaluwarsa, Pihak Perusahaan 'Bungkam'

Badau - Keberadaan PT. Pratama Unggul Sejahtera (PT. PUS) di Dusun Petikan Desa Sungai Samak Kecamatan Badau Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, kini menjadi sorotan. Pasalnya,  pabrik minyak kelapa sawit mentah/CPO milik perusahaan sempat mengganggu kehidupan sosial masyarakat sekitar.  

Keluhan kerap kali dialami warga, seperti bau menyengat dari Limbah pabrik minyak kelapa sawit mentah yang mencemari sungai. Bahkan sebagai bentuk protes, hingga berita ini diturunkan, Jalan menuju pabrik  yang biasanya dilalui truk milik perusahaan masih diportal warga, karena belum tuntasnya penyelesaiannya maupun mediasi antara warga dengan pihak perusahaan.

Dari informasi dihimpun, bukan dari bau tak sedap saja yang diprotes warga, ternyata  tujuh jenis perizinan pabrik minyak kelapa sawit mentah/CPO (Crude Palm Oil)  milik  PT.PUS  masa berlakunya sudah habis sejak tahun 2020 lalu. Seperti akte izin pesawat uap-Deaerator tank, Nomor : 560/PU-003/Disnaker-Babel/2019,  izin pesawat uap-back pressure vessel, Nomor : 560/PU-004/Disnaker-Babel/2019, izin ketel uanp-back pipa air (Boiler no. 2) Nomor : KU-001/Disnker-Bel/2019, surat keterangan K3 bejana tekanan jenis air receiver tank, surat keterangan bejana tekanan jenis air receiver compressor, 2 jenis surat keterangan K3 instalasi penyalur petir jenis elektrostatik, nomor : 566/SK3.IPP-012/Disnaker/III/2018.

Begitupun data  yang yang didapat, ada satu jenis perizinan  yang sudah berakhir sejak tahun 2019 lalu. Namun pabrik kelapa sawit mentah   yang berlokasi di dusun Petikan Desa Sungai Samak Kecamatan Badau Belitung ini  masih terus berproduksi. Diketahui, Ketujuh jenis perizinan itu diterbitkan oleh Disnaker Provinsi Bangka Belitung.

Saat dikonfirmasi, staf Dinas Tenaga Kerja  Provinsi Bangka Belitung Yudiansyah belum bisa berkomentar.  Yudiansyah yang disebut-sebut sebagai pengawas bahkan balik bertanya terkait  izin apa saja yang masa berlakunya  sudah berakhir.  

" Izin apa saja ya " tanya Yudiansyah belum lama ini.  

Hal senada juga dikatakan Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Bangka Belitung Harrie Patriadi.  Ia belum bisa memberikan tanggapan terkait dugaan berakhirnya 7 jenis  perizinan  pabrik CPO PT. PUS. Melalui pesan singkat Harrie Patriadi  menyampaikan terima kasih atas info yang disampaikan dan disarankan konfirmasi ke Disnaker setempat.

" Coba Confirm ke Disnaker setempat " kata Harrie Patriadi. Rakyat Pos sudah mengirim jenis perizinan yang diduga sudah kadaluwarsa namun belum ada tanggapan.

Upaya konfirmasi ke pihak perusahaan pun belum mendapat jawaban pasti. bahkan Manager  pabrik Eko Agus Harianto belum berhasil untuk dikonfirmasi.  

" Pak Eko  Belum dapat ketemu "  kata satpam perusahaan, suryanto. Selasa, (30/03/2021).  

Sementara itu Hal  yang sama juga terjadi pada GM PT. PUS. Sandi. Dihubungi melalui telpon, telpon seluler miliknya hanya terdengar  nada sambung namun tidak diangkat.  

Dari pantauan Rakyat Pos, Selasa, (30/03/2021) terlihat mobil tanki  dengan nomor plat BA 9627 OA  terparkir dipinggir kolam limbah yang siap mengangkut Limbah minyak kotor (Miko),  minyak limbah  sisa pengelolaan kelapa sawit  menjadi minyak CPO PT. PUS dikirim ke Lampung. Minyak kotor diambil dari kolam penampungan  yang tampak sudah penuh.  pengiriman itu sudah berlangsung sejak januari 2021 melalui truk tanki dengan kapasitas 17 hingga 20 ton per tanki. " Ada kontraknya dengan perusahaan "  kata  sopir truk tanki, Deva, Selasa, (30/03/2021).  (Yan/7)

Diatas Footer
Light Dark