Kiri Sayap
kanan Sayap Kategori
Dibawah Menu

Transformasi Sektor Pertambangan Babel

Sektor pertambangan timah memang sangat berpotensi dikembangkan di Bangka Belitung (Babel). Sebagai  penghasil  bijih  timah  terbesar di  Indonesia,  kontribusi  usaha  kategori pertambangan dan penggalian menempati urutan ke empat sebagai penyumbang pertumbuhan ekonomi di Babel. Namun, keberadaan tambang timah merupakan salah satu penyebab sedimentasi aliran sungai menjadi dangkal, yang pada akhirnya dapat menyebabkan banjir. Selain itu, ternyata Indeks Risiko Bencana (IRBI) Babel juga tergolong tinggi. Lantas, apakah kita harus terus menerus bergantungan dengan “Timah Babel”?

Menurut analisis Aqueduct Global Flood Analyzer, Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terdampak bencana banjir terbesar ke-6 di dunia, yakni sekitar 640 ribu orang setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia, temasuk Babel.

Seperti kita ketahui, wilayah Provinsi Babel sebagian besar adalah perairan yang luasnya hampir mencapai 80 persen dari total luas wilayah. Wilayah Provinsi Babel pada umumnya merupakan dataran rendah, lembah dan  sebagian kecil pegunungan dan perbukitan. Secara meteorologis bencana cuaca ekstrim dapat terjadi dimana saja terutama di dataran rendah dan daerah yang terbuka.

Babel  sebagai  daerah pertambangan timah memiliki sedikit catatan kejadian bencana alam (geo-disaster), tetapi tidak  benar-benar  terbebas  dari  bencana alam.  Menurut  catatan  BNPB  (2011),  indeks rawan  bencana  Babel  tergolong sedang-tinggi.  Berdasarkan Indeks Risiko  Bencana  Indonesia  (IRBI)  2018,  Babel  memiliki indeks risiko sebesar 161.54 yang tergolong tinggi. Kota Pangkalpinang merupakan satu-satunya kabupaten/kota di Babel yang memiliki indeks risiko bencana yang tergolong sedang, yaitu sebesar 120,40 dari 7 kabupaten/kota yang ada (BNPB, 2018).

Banjir merupakan salah satu bencana yang mengancam Babel pada awal tahun 2021. Sebanyak 32 rumah warga di Babel  hancur berantakan usai diterjang banjir rob ekstrem pada hari rabu, 13 Januari 2021 (liputan 6. com, 2021). Berdasarkan laporan tim reaksi cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), banjir rob ketinggian air 60 hingga 70 centimeter (cm) lebih terjadi enam kabupaten/kota, yaitu Kabupaten Bangka, Bangka Tengah, Bangka Barat, Belitung, Belitung Timur dan Kota Pangkalpinang. Berdasarkan data sementara bencana, setidaknya ada 559 rumah terdampak banjir dengan ketinggian air bervariasi mulai dari 30 cm hingga 70 cm. Bahkan, banjir rob terparah yang terjadi di Pulau Gersik, Kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung, mengakibatan puluhan rumah warga hancur dihantam gelombang tinggi yang bersamaan dengan hujan lebat. Ratusan rumah warga dan fasilitas umum di kawasan pesisir mengalami rusak ringan hingga berat, bahkan ada yang hancur terbawa arus banjir rob yang deras (MI, Januari 2021).

Faktor antropogenik (manusia) berperan besar  terhadap  bencana  banjir.  Pada umumnya  banjir  terjadi  pada  saat  curah hujan  tinggi di  atas normal,  sehingga  sistem pengaliran  air  yang  terdiri  dari  sungai  dan anak  sungai  alamiah  serta  sistem  saluran drainase  buatan  tidak  mampu  menampung akumulasi  air  hujan.  Sistem pengaliran/drainase  telah  mengalami penyempitan  dan  pendangkalan  akibat sedimentasi yang salah satunya berasal dari penambangan timah.

Penambangan timah yang dilakukan di darat atau laut menimbulkan dampak terhadap lingkungan, salah satunya adalah Daerah Aliran Sungai (DAS) mengalami pendangkalan. Air sulit mengalir karena terdapat lumpur yang menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir (Muslih, Adiwlaga, Adiwibowo, 2014). Berdasarkan citra satelit pada tahun 2014, sebanyak 378,048 ribu hektar (57,5 persen dari 657,51 ribu hektar) sudah menjadi kawasan peringatan atau kritis (Dinas Kehutan Bangka Belitung, 2014) akibat pertambangan timah tersebut.

Dilemanya, sektor pertambangan dan penggalian masih diminati oleh masyarakat Babel hingga saat ini. Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2019, sektor pertambangan dan penggalian merupakan sektor ketiga yang paling banyak menyerap tenaga kerja di Babel yaitu sebesar 14,14 persen. Sektor pertambangan dan penggalian memberikan kontribusi terbesar kelima terhadap Pendapatan (PDRB) Babel . Keberadaan timah tidak hanya mendorong kegiatan produksi di  usaha  pertambangan  dan  penggalian, tetapi  juga  industri  pengolahan  (smelter logam timah). Sebagai  penghasil  bijih  timah  terbesar di  Indonesia,  kontribusi  usaha  kategori Pertambangan dan Penggalian menempati urutan ke empat terhadap pertumbuhan ekonomi Babel yaitu  sebesar 9,49 persen, dengan pertumbuhan sebesar 0,87 persen (Statistik Daerah Bangka Belitung, 2020).

Timah sudah menjadi leading sector di Babel selama lebih dari 300 tahun. Namun, pemerintah akan mengalami tantangan yang besar dan sulit dalam mengelola kawasan yang rusak akibat pertambangan. Terlebih lagi, penambangan timah yang terus menerus dilakukan dapat menjadi penyebab terjadinya banjir. Untuk itu, perlu adanya transformasi sector pertambangan dan penggalian ke sektor lainnya, salah satunya adalah sector pariwisata. Pariwisata merupakan sector menjanjikan yang dapat meningkatkan sector lainnya (memiliki efek berganda/multiplier effect) seperti pertanian, perikanan, dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Terlebih lagi, pada masa pandemi ini, Babel merupakan salah satu dari lima provinsi yang difokuskan oleh pemerintah untuk membuka pariwisatanya lebih awal. Hal ini tentunya menjadi peluang besar bagi sektor pariwisata untuk lebih dikembangkan. Semoga dengan adanya transformasi sektor ini, dapat mengurangi pergerakan sector pertambangan dan penggalian, yang secara tidak langsung dapat meminimalisir terjadinya banjir di Babel. (***).

 

Diatas Footer
Light Dark